Sabtu, 07 November 2009

Efek Rokok Terhadap Gigi


Berbagai posting dan artikel mungkin susah banyak yang mengulas tentang rokok dan bahaya yang ditimbulkan. namun disini saya ingin mengulas efek rokok khusus terhadap kesehatan mulut dan gigi. semuga bermanfaat dan selalu mohon saran dan kesan agar postingan ini makin sempurna.

mengapa rokok sangat erat kaitannya dengan kesehatan gigi dan mulut? jelas secara gampang bisa dijawab, karena rokok dihisap melalui mulut ( saya rasa ga ada tempat lain untuk menghisap rokok ^^). Secara gampang bisa kita lihat bibir seorang perokok memang terlihat lebih gelap dibandingkan dengan bibir seorang yang bukan perokok, mengapa?

Secara umum kita mengetahui rokok yang ada di Indonesia ada 2 jenis, rokok dengan filter dan tanpa filter ( lebih dikenal dengan rokok kretek). Rokok tanpa filter cenderung lebih cepat merubah warna gigi dari pada rokok dengan filter.

Sekarang mari kita ikuti jejak asap rokok kenapa begitu banyak organ" tubuh yang dirugikan. Saat kita menghisap rokok asap yang keluar dari sebatang rokok menuju rongga mulut, beberapa detik asap rokok dengan jutaan zat" kimia berada dalam rongga mulut dan mempengaruhi jaringan dan organ yang ada dalam rongga mulut termasuk gigi itu sendiri. Asap panas yang berhembus terus menerus ke dalam rongga mulut merupakan rangsangan panas yang menyebabkan perubahan aliran darah dan mengurangi pengeluaran ludah. Akibatnya rongga mulut menjadi kering dan lebih an-aerob (suasana bebas zat asam) sehingga memberikan lingkungan yang sesuai untuk tumbuhnya bakteri an-aerob dalam plak. Dengan sendirinya perokok beresiko lebih besar terinfeksi bakteri penyebab penyakit jaringan pendukung gigi dibandingkan mereka yang perokok.

Gusi seorang perokok juga cenderung mengalami penebalan lapisan tanduk. Daerah yang mengalami penebalan ini terlihat lebih kasar dibandingkan jaringan di sekitarnya dan berkurang kekenyalannya. Penyempitan pembuluh darah yang disebabkan nikotin mengakibatkan berkurangnya aliran darah di gusi sehingga meningkatkan kecenderungan timbulnya penyakit gusi.

Tar dalam asap rokok juga memperbesar peluang terjadinya radang gusi, yaitu penyakit gusi yang paling sering terjadi disebabkan oleh plak bakteri dan factor lain yang dapat menyebabkan bertumpuknya plak di sekitar gusi. Tar dapat diendapkan pada permukaan gigi dan akar gigi sehingga permukaan ini menjadi kasar dan mempermudah perlekatan plak. Dari perbedaan penelitian yang telah dilakukan plak dan karang gigi lebih banyak terbentuk pada rongga mulut perokok dibandingkan bukan perokok. Penyakit jaringan pendukung gigi yang parah, kerusakan tulang penyokong gigi dan tanggalnya gigi lebih banyak terjadi pada perokok daripada bukan perokok. Pada perawatan penyakit jaringan pendukund gigi pasien perokok memerlukan perawatan yang lebih luas dan lebih lanjut. Padahal pada pasien bukan perokok dan pada keadaan yang sama cukup hanya dilakukan perawatan standar seperti pembersihan plak dan karang gigi.

Keparahan penyakit yang timbul dari tingkat sedang hingga lanjut berhubungan langsung dengan banyaknya rokok yang diisap setiap hari berapa lama atau berapa tahun seseorang menjadi perokok dan status merokok itu sendiri, apakah masih merokok hingga sekarang atau sudah berhenti.
Nikotin berperan dalam memulai terjadinya penyakit jaringan pendukung gigi karena nikotin dapat diserap oleh jaringan lunak rongga mulut termasuk gusi melalui aliran darah dan perlekatan gusi pada permukaan gigi dan akar. Nikotin dapat ditemukan pada permukaan akar gigi dan hasil metabolitnya yakni kontinin dapat ditemukan pada cairan gusi.

Dapat disimpulkan kerugian yang timbul akibat kebiasaan merokok pada kesehatan gigi dan mulut:

1. Perubahan warna gigi, gusi dan bibir.
2. Karies pada gigi akan semakin cepat terbentuk.
3. Kemungkinan kanker pada jaringan mulut sangat besar.
4. Bau nafas jelas beraroma rokok.
5. Berubahnya jaringan" dalam rongga mulut yang menyebabkan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan mulut itu sendiri seperti pemicu terbantuknya karies.

Jumat, 06 November 2009

Batuk Berdahak


SERANGAN batuk berdahak yang berlangsung lama sering dianggap sepele oleh sebagian masyarakat. Padahal, kondisi itu merupakan salah satu gejala radang pada saluran napas atau bronkitis. Bila tidak segera diatasi, penderita bisa mengalami perburukan penyakit itu, bahkan mengganggu fungsi jantung.

Kebiasaan merokok dan polusi udara meningkatkan risiko bronkitis kronik serta memicu kekambuhan penyakit itu. Bronkitis akut timbul karena flu atau infeksi lain pada saluran napas dan membaik dalam beberapa hari atau minggu. Pada bronkitis kronik, terjadi iritasi atau radang menetap pada saluran napas sering terjadi akibat rokok dan sering kambuh. Bila makin parah, penyakit itu masuk dalam kelompok PPOK yang memerlukan pengobatan serius.
Pasien bronkitis mengalami gejala antara lain batuk berdahak, napas pendek, dan makin berat saat aktivitas, mengi, demam, serta rasa tidak nyaman di dada. Bronkitis kronik ditandai batuk memburuk pada pagi hari, infeksi saluran napas berulang, flu disertai peningkatan batuk berdahak selama lebih dari tiga bulan.
Bila tidak segera diatasi, serangan bronkitis kronik akan sering berulang dan bertambah parah. Apalagi bila penderita adalah perokok. Paparan asap rokok, daya tahan tubuh yang rendah, sakit mag, dan paparan bahan-bahan iritan di tempat kerja meningkatkan risiko bronkitis dan kekambuhan penyakit itu hingga menjadi PPOK. Pada penderita PPOK, gejala penyakit meningkat dan fungsi paru menurun. Kualitas hidup penderita juga turun.

Penyakit paru obstruktif juga berkaitan dengan gagal jantung kanan yang berfungsi untuk memompa darah ke paru-paru. Namun, kebanyakan pasien mengabaikan gejala ringan. Batuk berdahak dan sesak ringan dibiarkan bertahun-tahun. Kebanyakan penderita PPOK adalah perokok atau bekas perokok. Sebagian pasien hidup di rumah yang penuh asap berasal dari tungku dapur atau kompor, dan sebagian lagi hidup tahunan di tempat kerja yang berasap atau berdebu.
Diagnosis bisa dilakukan dengan menggunakan spinometeri untuk memastikan adanya penyempitan saluran napas, menentukan beratnya penyakit, menilai efek obat, dan memantau hasil pengobatan. Dengan diagnosis yang akurat, pasien bisa mendapat pengobatan yang tepat. Untuk memperlambat kerusakan paru, penderita harus berhenti merokok dan menghindari asap atau debu yang membuat sesak.

Total Tayangan Halaman

Blogger Themes